April 26, 2010 at 6:15 am | Posted in Program Peduli Pendidikan | Leave a comment

Setiap Sabtu, rombongan santri dari Pondok Pesantren, Khulatosussalam, Kampung Kaum, Desa Pabuaran, Kemang, Bogor bertandang ke Rumah Gemilang Indonesia (RGI). RGI, pusat pendidikan dan pelatihan yang dibangun Al-Azhar Peduli Ummat. Rombongan yang berjumlah 17 santri itu, didampingi langsung Ustad Dimyati, pengasuh pondok. Santri laki-laki, berbusana sederhana lengkap dengan sarung. Sementara santri putri berjilbab rapi.

Mereka datang pukul 08.00, diantar mobil tua warna putih. Kendaraan itu disewa dari tetangga pondok. Jadi langganan, meski kerap mogok. Kalau ngadat di jalan, santri yang ganti mendorong, agar mobil itu bisa jalan kembali.

Tiba di RGI, mereka langsung dibawa ke ruang laboratorium komputer. Di antara santri, bertingkah malu-malu. Sebagian berbisik mengaku deg-degan. Selama ini, namanya komputer hanya akrab di pendengaran mereka, belum pernah menyentuh.

“Pernah memegang komputer?”

“Belum!” jawab santri serentak, tatkala pengajar komputer mengajukan pertanyaan. Semua jadi terbahak-bahak, lugu.

“Pak, anak-anak santri nggak ada yang bisa bahasa Inggris, kan komputer pakai bahasa Inggris. Bisanya cuma I love you”, celetuk Dimyati yang membuat semua orang tertawa.

Tapi, meski belum pernah belajar komputer, para santri tampak antusias. Pandangan pertama, membuat mereka jatuh hati untuk terus belajar.

“Santri tak boleh gaptek”, sindir seorang santri pada temannya, percaya diri.

Menurut Direktur Al-Azhar Peduli Ummat, M Anwar Sani, kegiatan Santri Melek Teknologi ini, merupakan rangkaian pemanfaatan RGI sebagai pusat pendidikan dan latihan untuk masyarakat.

“Ini bentuknya kursus pendek. Selain program reguler menjahit, desain grafis, videografi, dan fotografi. Santri-santri dari berbagai pondok dapat memanfaatkan kursus komputer di RGI ini, juga kursus-kursus keterampilan lain yang sedang kami siapkan”, terang Anwar Sani.

“Tapi jangan dicurigai. Hanya belajar komputer nanti dikira mau jadi teroris”, kelakar Sani.

Namun, karena keterbatasan ruang dan fasilitas, kursus singkat untuk santri ini baru dibuka kelas Sabtu dan Ahad. Jangan terkejut, jika hari Sabtu bersilaturahim ke RGI akan bersua santri-santri yang masih polos dan penuh jenaka.

Tiba-tiba, salah satu santri mengeluarkan ide kreatif, “Nanti kalau kita sudah bisa komputer kita buka rental. Lumayan untuk menghidupi pondok”.

Pesantren Khulatosussalam, dirintis tiga tahun lalu oleh Dimyati. Sepulang mondok dari berbagai pesantren di Jawa Barat dan Banten, ia pulang kampung dan membuka majelis. Muridnya kini 60 orang, dari warga sekitar sampai pendatang dari Jawa Barat. Pengajian seputar tafsir Al-Quran dan kitab kuning.

Pondok itu, tak begitu besar. Ruang utama dari bilik bambu dan serba sederhana. Operasional pondok dari usaha empang, warung kelontong, dan membuat peti kayu. Selain mendaras ilmu, santri juga dapat penghasilan dari usaha itu. Dimyati, menyerahkan semua urusan bisnis pada santrinya. Jika ada untung, semua untuk menopang kehidupan pondok, termasuk memberi makan santri. Dimyati bersama istri dan satu anaknya, memilih tinggal di sudut ruang majelis yang dibangun dari bilik bambu. Ia, jauh dari kesan mewah.

“Saya hanya mengetahui saja. Semua santri yang menjalankan, kita ajarkan pada santri untuk tahu bisnis sebagaimana Nabi dulu juga pengusaha”, terang Dimyati yang kini menginjak 27 tahun.

Jika para santri sudah paham komputer, Dimyati akan membuka ruang belajar kursus komputer untuk anak-anak sekolah di sekitar pondok. Meski di pinggiran jantung kota, kehidupan warga di sekitar pondok itu masih tertinggal. Kebanyakan generasinya hanya lulus SD.

“Komputer dari Al-Azhar Peduli Ummat, nanti untuk dimanfaatkan pondok dan masyarakat. Kita tidak hanya ngaji agama, tapi santri juga harus melek teknologi”, kata Dimyati.

“Dunia akhirat harus seimbang. Keluar dari pondok, mereka tidak hanya memahami agama dengan baik dan mengamalkannya. Tapi juga punya bekal untuk menjalani kehidupan agar masa depannya sejahtera”, tandas kyai muda itu visioner.

Semoga.

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.