Dibutuhkan : SeKolah Yang Rusak Berat

July 20, 2007 at 8:18 am | Posted in Uncategorized | 2 Comments
Untuk Program Benah Madrasah Al-Azhar Peduli
Dengan Ketentuan:
 1. Berada di Wilayah Jakarta Selatan
2. Terutama Berbasis Agama Islam, TPA, MI, MTS, MI
3. Profesi Berada di Pemukiman Kurang Mampu/menengah
4. Status Tanah ”Wakaf”
Silahkan Ajukan proposal sekolah Anda ke Alamat
Al-Azhar Peduli Ummat
Jl. Sisingamangaraja Kebayoran Baru
Jakarta Selatan 12110
Telp.021.722 1504 Fax.021-726 5241
atau
Menghubungi Sdr. Taufiq 081388119448
Dengan Mencantumkan
Alamat lengkap                                             
Pengurus                                            
Kontak/tlp yg dapat di hubungi          
L. Tanah                                             
L. Bangunan                                                  
Status Tanah                                      
Jumlah Siswa                                      
Pendanaan Sekolah                            
Rata-rata Profesi orang tua siswa      
Jumlah Guru                                        
Jumlah Ruang Kelas                          
Jumlah Ruang Guru                           
Jumlah MCK                                       
Foto-foto Bangunan & aktivitas KBM
Peta Menuju sekolah                         
Spesifikasi kebutuhan
(Sebutkan Berdasarkan prioritas)
SEGERA…
Pengajuan Paling Lambat 26 Juli 2007

Dicari: 20 Calon Da’i

July 14, 2007 at 2:31 am | Posted in Pendidikan Muballigh Al Azhar (PMA) | Leave a comment

Al Azhar Peduli Ummat , bekerjasama dengan Pendidikan Muballigh Al Azhar (PMA) menyediakan beasiswa untuk duapuluh orang peserta PMA Tingkat Dasar. Selain biaya perkuliahan, APU juga memberikan biaya transportasi bagi peserta program beasiswa.
PMA adalah institusi pendidikan muballigh yang dirintis almarhum Buya Hamka sejak 1977 dan telah melahirkan ratusan muballigh handal.
Peserta minimal lulusan SMU/sederajat dan tidak buta huruf hijaiyah. Bagi calon peserta program beasiswa, diutamakan dari lingkungan pengurus masjid (marbot) dan kaum dhuafa dari latar belakang profesi informal seperti petugas kebersihan, juru parkir, dan sebagainya, yang memiliki minat tinggi menjadi da’i.
PMA memiliki tiga tingkat pendidikan; Tingkat Dasar, Tingkat Lanjutan, dan Kajian Khusus yang masing-masing menempuh masa perkuliahan selama satu tahun. Pengajarnya, dosen-dosen dari berbagai disiplin ilmu agama universitas terkemuka. Menurut M. Anwar Sani, Direktur Eksekutif
APU, lembaganya siap membiayai sampai tingkat Kajian Khusus bagi peserta yang memiliki komitmen kuat menjadi juru dakwah.
Tahun ini PMA akan memulai masa perkuliahan pada 16 Juli, pendaftaran calon da’i program beasiswa dilakukan di kantor Al-Azhar Peduli Ummat, Komplek Masjid Agung Al Azhar, Jalan Sisingamangaraja, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Pendaftaran dilayani setiap hari pada jam kerja oleh Agus Nafi, koordinator program beasiswa PMA-Al-Azhar Peduli Ummat

SUARA KOMUNITAS

July 14, 2007 at 2:13 am | Posted in Program Peduli Kusta | 2 Comments

Oleh: Ali s.

Mara menimpa badan tersisih
terlepas dari jalinan kasih
dokter kami berkata ucapan wassalam
kami pandang ke depan begitu kelam

kami harus berjalan di lorong sempit
terhimpit, tercekik, meronta-ronta
melawan kerasnya kehidupan dunia

kami teriak igin dibela, dari derita yang menyesakkan dada
kami berjalan dengan sisa tenaga
mencari dan membaca kitab penguasa
kami kecewa, putus asa, di sana tak terbaca
kami dibela sepatah kata

KAMI IRI, KAMI CEMBURU…
Mereka cacat kamipun cacat, tapi selisih dalam martabat
Dilahirkan dama sebagai anak bangsa
kami di perlakukan jauh berbeda

pagi ini, bila suaraku terdengar seantero persada
aku akan teriak sekuat-kuatnya
Aku ajak komunitas ini, untuk sujut syukur puja Illahi
Kami persembahkan segala puji
Jum’at sembilan Juni dua ribu tujuh (23 jumadil Awal 1428H)
Pertama kali di Dunia SELAHIR BUANA
Di dalam sebuah rumah suci tauhid Illahi
Terdengar sayup-sayup gema suara
“AL-AZHAR PEDULI (Komunitas) KUSTA!”

Mataku nanar rasa tak percaya, tapi itu, benar-benar nyapa
hatiku bertanya-tanya, mungkinkah dunia mulai berubah?
Hamba-hamba Nya menantang jeram membela cacat kusta
kaum yang paling lemah

kubisik-haru di telinga permata
ini secercah harapan untukmu sayang
TURUS anugrah di masa depan
maaf Mama, maafkan Bapa
Karena kami tidak berdaya dipasung derita

APIK, Tetapkan Dua Koordinator Komunitas

July 12, 2007 at 2:17 am | Posted in Program Peduli Kusta | Leave a comment

 koordinator-apik.jpg

Berbagai representasi lembaga dan kelompok kusta dalam komunitas ini, secara aklamasi rela “melebur” dalam prorgam Al Azhar Peduli Kusta (APIK) dan memilih koordinator komunitas (korkom). Dua orang yang dianggap memenuhi kriteria para wakil komunitas, adalah Suwarta (edisi lalu tertulis Suata, dengan ini penyebutan telah kami ralat) dan Badar Badjrey. Suwarta, adalah salah seorang pengurus RW. Dia bukan penderita kusta, namun hadir di komunitas ini karena anaknyalah yang dirawat di RSK Sitanala dan saat sembuh, tak mau berisiko ditolak masyarakat, memilih tinggal di perkampungan ini. Sebagai orangtua yang menyayangi anaknya, ia rela menemani sang anak sampai hari ini. Sedangkan Badar Badjrey, lebih dulu tenar namanya. Bahkan sebuah koran lokal menyebutnya “Bapak Kaum Kusta”.  Dengan dua tokoh ini, insyaAlah APIK bisa memperkokoh solidaritas komunitas ke arah perbaikan di masa depan.

 “Meski butuh proses agak berbelit, misalnya merancang programnya partisipatif, pembentukan koordinator komunitas pun dengan musyawarah, biasanya hal ini membantu meningkatkan rasa memiliki komunitas sasaran terhadap program. Mereka sadar, ini untuk kebaikan bersama. “APIK bukan program dari langit yang tanpa proses, lalu habis begitu saja tidak keberlanjutan,” ungkap Dwi Kartika, Supervisor Fundraising  LAZ Al Azhar Peduli Ummat. InsyaAllah, pola partisipatif akan menjadi ciri kerja LAZ Al Azhar Peduli Ummat khususnya dan lembaga zakat pada umumnya.

Untuk program perdana pasca terbentuknya Korkom sebagai asisten monitoring program di lapangan, di perkampungan ini akan berlangsung Lomba Kampung APIK, sebuah gerakan kebersihan lingkungan demi menarik simpati masyarakat luas, bahwa komunitas kusta sama sekali tidak identik dengan kekumuhan dan kekotoran. Iqbal

Menyemai Masa Depan di Gunung Sampah

July 12, 2007 at 2:06 am | Posted in Program Peduli Pendidikan | Leave a comment

           wisudawan-dan-jajaran-pembi.jpg

            Udara lengas membekap siang, Ahad (8/7) lalu. Meski sudah dipel sejak pagi, gerombolan lalat enggan pergi dari lantai mushola, menemani puluhan kanak-kanak berceloteh, menari, dan menyanyi. Gelantungan jemuran dan aroma busuk yang menyengat tak mengganggu keasyikan. Mereka sudah biasa.

            Aroma sampah. Bau udara macam apa lagi yang bisa diharap di tengah pemukiman kumuh kampung Ciketing Udik RT 01/05 yang berada di bibir lokasi Tempat Penampungan Akhir (TPA) Sampah Bantar Gebang, Bekasi? Tapi keceriaan kanak-kanak dan sorot mata bahagia orangtua mereka siang itu, mengalahkan semuanya.

            Mereka adalah santri-santri kecil yang sejak empat tahun lalu dibina dalam wadah Taman Pendidikan Al Qur’an Al Muhajirin. Ini TPA yang lain, yang dikelola bukan sampah, tapi generasi masa depan bangsa. Menurut pengurusnya, TPA yang ini tidak bau sampah, tapi bau surga. Siang itu, Al Muhajirin mewisuda sebagian santrinya yang telah menyelesaikan paket pendidikan empat tahun.

“Mereka akan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Menuntut ilmu agama lebih dalam. Mungkin masih bersama kami, walau ada juga yang berencana pergi sampai ke Madura,” ujar Ida Umi Kultsum, S.Ag (37), perintis sekaligus pengajar TPA Al Muhajirin.

Ida lalu bertutur tentang masa yang silam, sebelum Al Muhajirin didirikan. Waktu itu, sulit menyadarkan orangtua warga Ciketing Udik pentingnya arti pendidikan bagi anak-anak mereka. “Sekolah, ngaji… kalau sudah pinter kan buat nyari uang, nah sekarang saja anak-anak diajari nyari uang,” jawaban seperti itu kerap terdengar, mengiris jiwa pendidik Ida dan suaminya.

algi-ingin-jadi-guru.jpg“Anak-anak dieksploitasi untuk membantu orangtua nyari (memulung sampah),” tutur Achmad Khoidir Rohendi (35), suami Ida. Hampir seluruh warga Ciketing Udik berprofesi pemulung. Penghasilan rata-rata mereka per hari antara Rp10.000 hingga Rp30.000. Tak pantas untuk menopang hidup layak. Makanya, anak-anak wajib bekerja.

Kata dia, sistem pengelolaan dan jual beli barang pulungan yang berlaku sekarang tak menguntungkan pemulung. “Bos (pengepul-red) yang untung. Kalau harga barang naik, kita tidak tau, taunya kalau harga turun doang. Udah gitu, tak ada bantuan apapun kalau pemulung jatuh sakit atau butuh pinjaman,” papar Khoidir. Kelompok usaha dalam benaknya, konon akan lebih mampu mengakomodasi kepentingan pemulung. Sayang, kemandirian itu hanya bercokol di angan, “Modalnya dari mana?” Khoidir bertanya.

Perlahan, kesadaran ditanamkan. Benih-benih masa depan disemai di TPA Al Muhajirin. “Alhamdulillah, dari sekitar 500 anak usia sekolah dasar dan pra sekolah, 180 sudah mengaji di sini. Sebelumnya, anak-anak benar-benar buta huruf hijaiyah,” kisah Ida. Meski fasilitasnya teramat bersahaja dan tiap bulan selalu kekurangan biaya operasional, jiwa pendidik di dada Ida tak padam. Tak sepeserpun orangtua santri dibebani biaya pendidikan. Untuk operasional dan “honor” guru, mereka mengandalkan donasi yang sangat terbatas. “Untuk oleh LAZ Al Azhar Peduli Ummat serta bantuan untuk kegiatan-kegiatan yang dapat menunjang aktivitas belajar mengajar santri”. Operasional ada bantuan sedikit dari Muhammadiyah, kekurangannya kami tutup sendiri,” Achmad Khoidir menjelaskan.

Khoidir bercita-cita, TPA yang dirintisnya kelak bisa mandiri. Skemanya, mendirikan badan usaha yang dikelola secara kelompok oleh pengurus TPA dan orangtua santri. Hasilnya, selain menambah pendapatan pengelola, dinisbahkan untuk melanggengkan Al Muhajirin yang kini telah menempati hati warga Ciketing Udik.

“Yang terbayang di benak saya usaha budidaya belut. Mungkin juga badan usaha semacam koperasi yang bisa menampung barang pulungan anggota dengan harga pantas dan bisa menjualnya dengan posisi tawar yang lebih baik,” Khoidir menuturkan obsesinya.

“Seingatku, sejak tinggal di sini hanya ada dua orang yang berhasil meraih gelar sarjana. Kebanyakan DO SMA atau SMP, kawin, lalu nyari,” tutur Khoidir. Kini, kesadaran mulai mekar. Orangtua merelakan anak-anak mereka menuntut ilmu, bahkan pada hari-hari libur yang mestinya menjadi hari kerja bagi mereka.

Hasilnya, air mata bahagia menetes saat putra-putri mereka dengan bangga menyerahkan ijazah TPA kepada bunda. Siang yang lengas itu, Ciketing Udik benar-benar menguarkan wangi surga. Warga Jakarta, seyogyanya memang bukan hanya sampah yang Anda kirim ke Bantar Gebang. (joko w)

Jejak Buya Mencetak Da’i

July 11, 2007 at 11:27 am | Posted in Pendidikan Muballigh Al Azhar (PMA) | Leave a comment

pma-1.jpgTepuk tangan membahana saat nama M. Dian Rifa’i (28) dipanggil. Kegembiraan, jelas terpancar di wajah kelahiran Maninjau saat menerima sertifikat kelulusan Tingkat Dasar Pendidikan Muballigh Al Azhar (PMA) yang dihelat di Aula Buya Hamka komplek Masjid Agung Al Azhar, Sabtu, 30 Juni lalu. Dian satu dari 144 peserta PMA berbagai tingkat yang pagi itu diwisuda.

Sejarah panjang telah diukir lembaga pendidikan yang dirintis almarhum Buya Hamka. Dibuka pada 28 Oktober 1977 dan diresmikan pada 21 April setahun kemudian, PMA telah mencetak ribuan muballigh melalui tiga jenjang pendidikan yang diselenggarakan.

“Tujuannya, mendidik muslimin dan muslimat memahami risalah Islamiyah dan mampu menyampaikan dakwah berdasar Al Qur’an dan Hadits,” ujar H. Syamsir Kamaluddin, Kepala Pendidikan PMA. Tahun ini, PMA mewisuda 64 peserta Tingkat Dasar, 46 Tingkat Lanjutan, dan 34 Tingkat Kajian Khusus.

Dari tahun ke tahun, PMA beroleh sambutan antusias. “Tingkat Dasar tiap tahun diminati seratusan lebih mahasiswa dari berbagai latar belakang. Biasanya, 60 persen melanjutkan ke jenjang Tingkat Lanjutan dan 50 persen sampai ke Tingkat Kajian Khusus,” kata Hidayat Daip S.Pd, salah seorang pengurus PMA.

Tak heran, karena dengan biaya pendaftaran (tahun ini) hanya Rp175.000 dan uang kuliah Rp 90.000 perbulan, lembaga pendidikan yang terbuka untuk umum dengan syarat minimal lulus SLTA dan sederajat ini disesaki jajaran dosen berkualitas yang berasal dari berbagai Perguruan Tinggi ternama. “Tapi kami masih membatasi peserta baru hingga 120 orang, maklum, sampai saat ini ruang kuliah masih nebeng di UAI dan ruangan lain di komplek masjid agung,” kata Hidayat.

Tak dibatasi usia maksimal, beragam latar belakang sosial pun berbaur di PMA. Hj. Sunaringwiyah misalnya, mengaku akan terus menimba ilmu di PMA walau telah selesai mengikuti pendidikan Tingkat Kajian Khusus tahun ini. “Biayanya murah, dan di tingkat Kajian Khusus, kita boleh ikut terus walau sudah lulus,” ujar karyawati Perum Peruri mantap.

Meski banyak diminati kalangan profesional dan sarjana, PMA tidak membatasi peserta. Dian misalnya, adalah karyawan YPI Al Azhar yang sehari-hari bertugas di counter penitipan sepatu. Demikian juga Muhammad Syakieb Arselan (47) yang sehari-hari bertugas mengatur dan menjaga area parkir Masjid Agung Al Azhar. “Alhamdulillah, saya bisa mengikuti PMA berkat beasiswa yang diberikan LAZ Al Azhar Peduli Ummat. Bangga juga bisa sekelas dengan para sarjana,” ujar Syakieb yang lulus SMA Al Azhar angkatan pertama pada 1979.

pma-2.jpgTahun ini, Al Azhar Peduli Ummat memberikan beasiswa kepada 10 orang peserta PMA Tingkat Dasar. Penerima beasiswa, berlatar belakang profesi non formal seperti petugas parkir, marbot, petugas kebersihan, hingga penjaga penitipan sepatu. Selain memperoleh uang kuliah, mereka juga menerima uang transport. Beasiswa akan diberikan sampai jenjang Kajian Khusus selama peserta masih berminat.

“Memang tahun ini masih dari kalangan Al Azhar, tapi kami siap mendukung siapa saja yang berminat menjadi muballigh yang kesulitan membiayai pendidikannya,” kata M. Anwar Sani, Direktur Eksekutif Al Azhar Peduli Ummat menjelaskan. Anda berminat? (jw)

Ada Entrepreneurship di Tengah Manta

July 5, 2007 at 2:12 am | Posted in Program Peduli Kusta | Leave a comment
lasmono-keluarga-tetap-te.jpgLasmono boleh saja berjari tangan tak sempurna.
Agus dan Sakrim pun ikhlas disebut mantan penderita kusta (manta).
Namun ketiganya ogah takluk pada penyakit yang pernah menimpa mereka.

 

 

1994, tahun mimpi buruk Lasmono. Ia masuk Rumah Sakit Kusta (RSK) Sitanala, Tangerang akibat terjangkit kusta. Dua tahun dirawat, Mono sembuh. Muncul problem lain. Ia takut ditampik masyarakat, karena kusta menjejak pada jemarinya. Ia memilih menetap di komplek RSK Sitanala. Tanpa keahlian khusus, iapun bekerja serabutan. Narik becak, kerja upahan jenis apa saja, ia lakoni. ”Yang penting bisa makan,” katanya. Ia bersyukur, saat keluar bangsal perawatan —yakni 1996— ia masih bujangan. Tahun 1998, gadis Yuliana memikat hatinya, dan ia nikahi tahun itu juga. Allah amanahkan tiga buah hati dari pernikahan mereka. Yang sulung delapan tahun, sudah masuk SD. Adiknya baru umur empat dan satu tahun. Semua tumbuh sehat.

Lasmono tak bisa lagi kerja serabutan. Dia belajar pada Subagyo, rekannya yang sukses sebagai tukang utak-utik berbagai barang elektronik. Ketekunannya membuahkan hasil. Berbekal ketrampilan elektronik, Lasmono bisa memberi nafkah keluarga. ”Cita-cita saya sederhana, bisa menyekolahkan anak-anak saya setinggi mungkin. Saya harus bekerja keras. Soal hasil saya serahkan pada Yang Di Atas.”

Agus Ahmad, masuk Sitanala tahun 1978. Kusta yang ia derita, membuatnya dirawat sampai tiga tahun. Usai sembuh total, Dinas Sosial Kabupaten Tangerang membekali ketrampilan kerja kepada pria kelahiran 1960 itu. Usai kursus, Agus memilih menjadi pekerja di pabrik sepatu di Bekasi. Di sana cuma setahun, pindah ke perusahaan sablon di Jakarta Utara sampai perusahaan itu bangkrut tahun 1999. Karena menganggur, istrinya mengajak Agus kembali ke Sitanala agar dekat mertua. Agus pun mengontrak rumah, membuka usaha sablon. Usaha yang ia rintis tahun 2000 di Sitanala itu berjalan baik, sampai ia bisa membeli rumah sederhana.

Persaingan makin berat, usaha sablon Agus kembang-kempis. “Sepi order. Kami juga tak bisa mengambil kesempatan menyablon produk massal seperti kaos, spanduk dan sebagainya. Modal kami terbatas,” keluh bapak tiga anak ini. Padahal ia bercita-cita, usaha sablonnya bisa menyerap tenaga warga di sekitar RSK Sitanala. “Kalau saja ada modal, saya siap membantu melatih generasi muda agar mereka menguasai ketrampilan sablon. Mudah-mudahan nanti mereka bisa mandiri,” ujar suami dari Sri Mulyati ini.

Cita-cita Sakrim mirip Agus. Sejak setahun lalu, manta yang masuk Sitanala tahun 1971 ini, menjadi penjahit. Ia optimistis, potensi di komplek Sitanala mampu menghidupi warga yang kebanyakan para manta. Menurut pria kelahiran 1962 ini, tidak kurang 10 penjahit andal ada di komplek Sitanala. ”Selain itu, ada beberapa penjahit pemula,” papar mantan pengemudi bus “Warga Baru” (Sukabumi-Cikampek) dan bus “Pinika” (Cirebon-Merak) ini.

Problem usaha tiga small entrepreneur kaum manta ini, bukan sebatas modal. Aspek marketing dan pengorganisasian, ganjalan serius buat mereka. Perlengkapan kerja, mereka punya. Kemampuan berproduksi pun tak diragukan. Tertatih-tatih, mereka mengupayakan ikhtiar meluaskan peluang. Menjajaki kerjasama dengan instansi pemerintah di Tangerang, salah satunya dengan Dinas Sosial setempat. ”Permohonan kami ke Depsos Tangerang untuk memperoleh order, sampai kini tidak dijawab-jawab,” keluh Sakrim, dan dibenarkan Agus dan Mono. Ini problem klasik. Jangankan manta, orang normal saja yang mencoba terjun sebagai pengusaha mikro, terhenti sampai di kemampuan berproduksi, lalu menggantung di awang-awang. Mereka hanya menjadi ”produsen tanpa pasar”.

Al Azhar Peduli Kusta (APIK) berharap, kerlip entrereneurship di tengah kaum manta, tidak padam. Mari kita jadikan kerlip itu benderang, menerangi jalan panjang anak-cucu mereka agar dapat hidup wajar. Dakwah pemberdayaan semoga menjadi solusi memadai untuk mereka. Jangan abaikan fakta pemurtadan yang sekian lama menerpa komunitas ini dari berbagai pintu. Mereka ini saudara seakidah yang lama tak kita sapa. [Apiko JM, relawan independen]

Nantikan buku kisah lika-liku memperjuangkan komunitas kusta.
Sebagian hasil penjualan buku ini akan digunakan
untuk mendukung program peduli komunitas kusta.
Continue Reading Ada Entrepreneurship di Tengah Manta…

”Maaf, Kaki Saya Lepas!”

July 5, 2007 at 2:04 am | Posted in Program Peduli Kusta | 1 Comment

kaki-palsu.jpgBersyukurlah Anda yang punya tubuh sehat, dengan anggota tubuh lengkap. Ditengah komunitas kusta, ratusan orang tak punya kaki atau tangan pascaamputasi.

Jamingun terlihat gagah dalam usianya yang hampir setengah abad. Sepintas, orang tidak melihat keanehan dari fisiknya. Ia biasa mangkal di sekitar jalan raya Sitanala, ia setia menarik becaknya. Kalau saja Anda bukan termasuk pelanggan Pak Jamingun, pasti terkejut saat Jamingun tiba-tiba menghentikan becaknya meski belum tiba di tujuan. Apa pasal? Kakinya terlepas. Bagaimana tidak, sudah 20 tahun ini Jamingun mengenakan kaki palsu. Biasanya ia permisi minta berhenti. “Maaf, kaki saya terlepas.” Sambil tersenyum, ia minta izin penumpangnya untuk memungut dan memasang kembali kaki palsunya, lalu kembali mengayuh becaknya.

Jamingun terbilang beruntung. Ia salah seorang yang memperoleh bantuan kaki palsu dari Buddha Tutsi, sebuah organisasi sosial Budhis di kawasan Pluit, Jakarta Utara. Tidak gampang bagi penyandang cacat fisik pasca amputasi akibat kusta, memperoleh kaki atau tangan palsu. Kalau pun ada, harganya selangit, per unit lebih dari dua juta rupiah. Darimana manta (mantan penderita kusta) punya duit sebesar itu. Buat makan saja, harus jungkir balik.


jamingun-becak.jpgJamingun –dengan kaki palsunya – bukanlah tipe pribadi penadah tangan. Ia pantang
mengemis. “Lebih baik begini, narik becak daripada mengemis,” ungkapnya suatu ketika. Bukti kegigihan Jamingun,
dalam beberapa tahun, becaknya “beranak”. Kini dia punya tiga becak, satu
ditarik sendiri, dua becak dikaryakan oleh dua rekannya. “Setorannya ringan,
cuma tigaribu rupiah perhari,” ungkapnya. Penghasilan menarik becak perhari,
tidak menentu. “Rezeki dari Allah. Kalau Allah menilai
lima ribu cukup untuk hari itu, kita
ikhlas bawa pulang
lima ribu. Kalau lebih, alhamdulillah,” ujarnya dengan
paras amat tenang.

Ratusan orang berkaki atau bertangan satu pasca amputasi karena terjangkit kusta. Setelah sembuh, mereka menjadi penyandang cacat. Mereka ingin bisa berjalan atau berlenggang seperti dulu, tapi tak bisa. ”Mana mampu mereka membeli kaki palsu, kalaupun memaksakan membeli dengan tabungannya, biasanya dia seumur-umur hanya punya satu, dipakai bertahun-tahun tanpa serep (cadangan). Seperti Jamingun dan ratusan orang lainnya di Sitanala,” ungkap Badar Bajrey, fungsionaris yayasan SIDKKI yang pernah memfasilitasi bantuan 13 unit becak di komunitas ini. Waktu itu, kata Badar, Jamingun sudah punya becak sendiri, jadi SIDDKI hanya menyalurkan beasiswa untuk anaknya. Anak sulung Jamingun, saat ini baru lulus SMA, adiknya masihdi bangku SMP.

Prihatin dengan mahalnya harga kaki atau tangan artifisial, Ali Saga, pekerja seni yang akrab dengan komunitas ini, meneliti dan mulai merancang pembuatan kaki dan tangan artifisial. “Saya pelajari berbagai produk kaki palsu produksi dalam maupun luar negeri. Alhamdulillah, saya bisa membuatnya – mendekati harapan konsumen. Maklum, saya dekat dengan mereka dan mengetahui keluhan-keluhan mereka,” ungkap Ali yang terkenal sebagai pelukis poster bioskop, papan merek dan baliho iklan di Tangerang ini.

Bahkan, karya Ali Saga ini inovatif. Merespon keluhan para pengguna kaki buatan, misalnya lecet-lecet di bagian pangkal, atau cepat lelah atau mudah tersandung lantaran tapaknya yang keras, ia memodifikasi produk kaki palsunya. “Alhamdulillah, saya bisa membuatkan yang pakai per, empuk buat jalan, dan lentur, bisa ditekuk,” kata Ali sambil mendemontrasikan kaki palsu karyanya.

Sayang, Ali Saga cuma punya ketrampilan, modal cekak. “Kita tidak bisa membeli bahan gips, fiber, kulit, spons atau karet secara eceran. Kalau ada yang serius memodali produksi organ buatan, pasti banyak penyandang cacat karena diamputasi, akan terbantu. Produksi massal, akan menekan harga sehinga tidak perlu sampai jutaan rupiah untuk membeli kaki palsu,” papar Ali sambil menimang produk andalannya.
pembuatkaki.jpgSemoga saja, ikhtiar Ali Saga menyiapkan ”sanggar produk organ
artisifial” segera memperoleh sambutan kaum berpunya. Kalau sanggar ini telah
berproduksi, rasanya pemandangan memilukan seperti yang sempat disaksikan
Saripudin, surveyor LAZ Al Azhar Peduli Ummat, akan hilang. ”Saya sempat melihat sendiri, ada yang mengenakan
kaki palsu dari bambu. Bayangin aja, susah dan sakitnya berjalan dengan batangan bambu. Tapi, subhanallah, mereka tidak pernah mengeluh,” ungkap Saripudin.

Benar, mereka tak mengeluh. Keluhan, takkan mengubah batang bambunya menjadi
kaki buatan yang nyaman. Mari, bantu mereka agar bisa berjalan lebih nyaman,
menebar senyum mengisi hari-hari di Sitanala.

Create a free website or blog at WordPress.com. | The Pool Theme.
Entries and comments feeds.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.